Pembelajaran dari Pangkalan Tiga

Mei 16, 2017 0

Baru-baru ini, kami mewawancarai Sendy Nathalia, Asisten Lapangan INOBU yang mendedikasikan usahanya untuk memahami petani kelapa sawit di Indonesia. Sendy adalah bagian dari tim ahli lapangan INOBU yang berbasis di Pangkalan Tiga, sebuah desa di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Bagaimana pendapat Anda tentang kelapa sawit sebelum memulai pekerjaan Anda di lapangan?
Ketika pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan Tengah, satu-satunya pikiran saya adalah bahwa kelapa sawit harus dimusnahkan dari muka bumi. Namun, setelah bekerja dan berinteraksi langsung dengan para petani kelapa sawit, saya mengalami perubahan paradigma dari gagasan saya semula tentang kelapa sawit. Sekarang saya melihatnya sebagai sebuah jenis tanaman yang hanya memerlukan pengelolaan yang lebih baik dalam proses budidaya dan daur hidup produknya.

Apa yang telah Anda pelajari tentang petani kelapa sawit dan bagaimana hal ini membentuk perspektif Anda yang baru?
Tanaman kelapa sawit menyandang predikat negatif dan dianggap berbahaya bagi lingkungan. Kelapa sawit dianggap sebagai tanaman yang kebutuhan airnya sangat tinggi dan memerlukan semprotan bahan kimia secara intensif untuk membunuh gulma sehingga pada akhirnya berkontribusi terhadap pengurangan daya dukung lingkungan. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan berdampak langsung pada kualitas tanah. Pohon kelapa sawit sering ditanam di kawasan hutan, menyebabkan deforestasi yang signifikan dan melepaskan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya. Jika Anda melihat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kelapa sawit, dapat dibenarkan bahwa tanaman itu dianggap sebagai musuh lingkungan.
Namun, melawan kelapa sawit bukanlah hal yang mudah. Dalam tiga tahun terakhir, minyak sawit mentah (CPO) bertahan sebagai minyak nabati termurah di pasar global dibandingkan minyak zaitun dan minyak biji bunga matahari. Pilihan yang paling masuk akal untuk memberantas perkebunan kelapa sawit adalah dengan memotivasi konsumen untuk berhenti menggunakan kebutuhan pokok yang terbuat dari minyak kelapa sawit seperti sabun, kosmetik dan bahkan makanan. Hal tersebut mensyaratkan terjadinya perubahan besar di masyarakat secara menyeluruh untuk beralih dari produk-produk seperti minyak goreng ke produk-produk yang tidak mengandung minyak kelapa sawit.

Apa tantangan di lapangan untuk mewujudkan pergeseran dari kelapa sawit di Kalimantan Tengah?
Melalui kerja INOBU di Kalimantan Tengah, kami bertemu dengan para petani yang menanam kelapa sawit. Kita tidak bisa begitu saja mengganti kelapa sawit dengan tanaman yang lebih ramah lingkungan, seperti yang ditunjukkan dengan berbagai keberatan yang saya dengar dari petani. Untuk berhasil menanam kelapa sawit, seorang petani pada dasarnya harus melalui masa “puasa” selama kurang lebih tiga tahun sebelum ia dapat mengambil keuntungan finansial dari hasil panennya. Selama periode puasa tersebut, petani harus membiayai pemeliharaan kebun tanpa adanya penghasilan dari kebun itu sendiri. Begitu petani kebun sawit mulai menghasilkan tandan buah segar (TBS), banyak anggota keluarga mereka bergantung pada pendapatan dari kebun sawit tersebut. Pertanyaan yang selalu diajukan petani apabila harus berhenti menanam kelapa sawit adalah bagaimana cara mengganti pendapatan yang hilang tersebut? Menanam sawit sangat penting bagi penghidupan keluarga mereka. Konsekuensi yang paling logis bagi orang asing seperti saya yang menyarankan mereka agar berhenti menanam sawit adalah diusir dari desa. Saya akan sangat beruntung jika tidak sampai diusir dengan ayunan parang oleh para petani yang marah dan keluarga mereka!
Kalau begitu, ada kesenjangan antara teori dan pengalaman Anda di lapangan.
Ya. Teori konservasi terputus dari orang-orang yang menjadi subjeknya, setidaknya itulah yang saya saksikan di lapangan. Setelah menjalani percakapan dan diskusi yang panjang, menjadi jelas bagi saya bahwa masyarakat juga akrab dengan semua perubahan lingkungan yang muncul sejak beralih fokus dari komoditas tanaman pangan dan rempah-rempah ke kelapa sawit. Mereka mengerti bahwa lingkungan mereka terancam. Masyarakat peduli terhadap pelestarian lingkungan. Tapi, mereka tidak tahu bagaimana caranya dan seluruh waktu dan energi mereka difokuskan untuk menuai hasil panen yang cukup untuk mempertahankan keluarga mereka.

Apa solusinya? Bagaimana caranya agar petani dapat menyokong keluarga mereka dan di saat yang sama mempraktikkan konservasi di kelapa sawit?
Kesadaran masyarakat terhadap masalah lingkungan hidup adalah modal yang sangat besar jika kita mau mendorong orang-orang untuk melakukan tindakan nyata dalam pelestarian lingkungan. Program sertifikasi yurisdiksional untuk kelapa sawit yang didasarkan pada Prinsip dan Kriteria Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) adalah sebuah program yang saat ini dijalankan di desa Pangkalan Tiga, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dalam kolaborasi dengan Inovasi Bumi (INOBU).
Salah satu kegiatan dalam program ini adalah pelatihan petani kecil mandiri tentang nilai konservasi tinggi (HCV). Istilah HCV saja sudah kompleks dan membingungkan, seperti mata kuliah di tingkat universitas! Namun, petani kecil di desa ini membuktikan bahwa mereka terbuka untuk menyerap bahan-bahan yang diajarkan dan bersedia untuk mempertimbangkan aspek HCV ketika mereka menentukan lahan mana yang cocok untuk digunakan sebagai perkebunan.

Apa dampak positif yang telah dihasilkan dari Program Sertifikasi yurisdiksional di Pangkalan Tiga?
Petani menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga zona penyangga antara tanah pertanian mereka dengan sungai (5 meter). Tanaman kelapa sawit yang sudah ditanam di sepanjang muara sungai tidak akan diberi pupuk dan dilakukan penyemprotan, tapi akan dibiarkan tumbuh sebagai vegetasi alami sepanjang sungai. Petani telah mengorganisir diri mereka sendiri untuk menciptakan sebuah platform untuk belajar dan bertukar informasi. Mereka bekerja berdasarkan sistem dialog dan konsensus, melalui sistem pengendalian internal untuk memantau kepatuhan dengan tujuan kolektif.
Selain munculnya kesadaran dan motivasi petani untuk melindungi lingkungan dalam melaksanakan program sertifikasi yurisdiksional, pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait juga sangat mendukung program ini. Penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STD-B) yang sebelumnya memerlukan biaya ratusan ribu rupiah per hektar kini telah digratiskan oleh pemerintah kabupaten. Perkebunan kelapa sawit komersial di sekitar desa juga membantu masyarakat dalam memberikan pelatihan tentang praktik-praktik yang baik dalam budidaya kelapa sawit.

Bagaimana Anda menjelaskan secara ringkas berbagai pembelajaran yang Anda dapatkan di lapangan dalam mengembangkan kelapa sawit berkelanjutan?
Yang saya pelajari dari kasus Kalimantan Tengah adalah bahwa apa yang dianggap rusak oleh orang lain tidak selalu harus dikucilkan dan ditinggalkan, tapi dengan bekerja bersama-sama, hal yang rusak bisa diperbaiki. Sebagai dikatakan oleh salah satu teman, keseragaman merupakan salah satu bentuk penghapusan ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis, namun perlu untuk melucuti ideologi yang harus dilaksanakan dan dijalani.


Leave a comment:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *